Lollimato

Tales of Fairies


19 Comments

[FF MyungEun] The Killing Part 3B : Dark Past of L

TheKilling Myungeun

Rating : PG

Gendre : Romance, Angst

Main Cast : Infinite’s L and APink’s Naeun

Sumarry : Ketika L yang playboy masuk dalam organisasi detektif besar di Korea, dia bertemu dengan Son Naeun, gadis super dingin yang menjadi seniornya. Masalahnya, L berada dalam lingkaran masa lalu Naeun yg suram.

Part 1 : Welcome to Cullim Killing Unit

Part 2 : Be Nice Training Member, L

Part 3A : Dark Past of Naeun

Mohon maaf atas suuuuuuuupeeeeeeeer late updatenya hiks :””( abis kemaren pake acara lupa password hiks. Untuk part ini bakal ada banyak (gak banyak-banyak amat sebenernya) cameo heheheh. Dan makasih buat Citra unnie (@CitraTiwie) yang udah bikinin covernya ❤

ENJOY!

***

L menajamkan pandangannya di dalam ruangan cukup besar yang dipenuhi beberapa ‘rintangan’. Oh itu bukan kata konotasi karena ruangan tersebut memang diperuntukan bagi para training yang akan menghadapi ujian kelulusan. Beberapa peti kayu tertumpuk di sudut ruangan, tong-tong besi, jaring-jaring yang hanya berjarak 40 cm dari lantai, papan tembak, panah serta papan darts, hingga mesin touch-screen yang menampilkan permainan ‘mencari perbedaan diantara dua gambar’.

Hoya mengarahkan jari telunjuknya pada benda kecil di tangannya, stopwatch. “ Satu…dua…tiga”

Woohyun meniup peluitnya, tanda ujian dimulai. L tak membuang waktu lagi untuk berlari secepat yang ia bisa melewati rintangan pertama, menaklukan peti kayu. Ini tak semudah yang dibayangkan karena tumpukan peti kayu itu bisa mencapai ketinggian 4 meter dan harus dilakukan dengan cepat. L tak terlalu kesusahan sebenarnya, ia sudah terlatih melompati tembok-tembok tinggi untuk kabur dari sekolah dulu. Ternyata hal itu cukup berguna ya.

Duar! Duar!

L melompat cepat-cepat agar bisa bersembunyi dibalik tong-tong besi sementara Woohyun terus melayangkan tembakannya. Peluru-peluru itu menabrak tembok ruangan yang dirancang khusus. Tuan Nam sedang melancarkan serangan bertubi-tubi rupanya. Dibalik tong, L menarik nafasnya yang sudah putus-putus.

“ Mau sampai kapan kau sembunyi disana, hah?! Waktu terus berjalan bodoh!” teriak Hoya dengan mata tak lepas dari stopwatch.

“ Kau takut terkena tembakan? Kau sudah memakai rompi anti peluru jadi harusnya tak perlu khawatir” ujar Woohyun tenang, berbanding terbalik dengan tangannya yang masih sibuk menembak. L membuang nafas dan menggigit bibirnya kesal. Ini ujian atau usaha pembunuhan?.

Masih mempedulikan masa depannya, L memberanikan diri meninggalkan tong besi pertama lalu berpindah ke tong besi kedua, ketiga, dan seterusnya. Lelaki itu terus berlari hingga dihadapkan jaring-jaring super rendah yang membuatnya terkejut. Otaknya dihadapkan oleh dua pertanyaan, dia harus lewat bawah atau melompat diatasnya?.

“ Lewat bawah!” dikte Hoya. L menoleh dengan wajah tegang.

“ Mana bisa!” seru L frustasi. Disaat seperti ini ia justru harus tetap berlari kencang. Tak ada pilihan lain, ia meringankan tubuhnya kebelakang hingga terjatuh dan bertumpu pada tangannya agar tak terbentur. Beruntung tubuhnya meluncur mulus dibawah jaring-jaring tanpa ada yang tersangkut. Bunuh saja dia kalau hidung mancungnya malah tertahan di jaring-jaring itu.

Setelah adegan meluncur indah tersebut, L masih harus terus berlari. Cepat-cepat ia mengeluarkan pistol di pinggangnya untuk menembak papan-papan kayu yang muncul tiba-tiba dari lantai. Memang dirancang seperti itu. Lelaki itu harus menekan rasa terkejutnya untuk lebih berkonsentrasi menembak.

Bang! Bang! Bang!

Sepatu L dan lantai tempatnya berpijak membuat suara decitan keras tatkala ujian menembaknya selesai dan berganti dengan ujian memanah. Dengan sedikit linglung, L mengambil busur serta panahnya lalu diarahkan kepada papan darts. Ia menoleh kepada Hoya untuk meminta instruksi, namun yang ditatap sama sekali tak bisa diharapkan karena terus terpaku pada stopwatch.

Woohyun mengarahkan dagunya pada papan darts ketika L melihatnya, menyuruh peserta training itu untuk segera memanah. Rasa ragu yang merayapi L perlahan mulai ditepis, ia mencoba berkonsentrasi pada papan darts, terutama dibagian tengahnya. Ditariknya tali busur dan menutup sebelah matanya untuk membidik. Tali dilepas, anak panah meluncur menembus udara secepat kilat dan tertancap di papan darts. Tidak tepat ditengah karena agak melenceng sekitar 2 mm. L menggertakan giginya kesal. Tentu saja ia tidak puas dengan usaha ‘hampir berhasil’ tersebut. Hanya saja waktu tak mengijinkannya untuk berlama-lama menyesal. Ujian kecepatan otak masih menunggu. Continue reading