Lollimato

Tales of Fairies

[FF MyungEun] The Killing part 3A : Dark Past of Naeun

26 Comments

 The Killing MyungEun

Rating : PG

Gendre : Romance, Angst

Main Cast : Infinite’s L and APink’s Naeun

Sumarry : Ketika L yang playboy masuk dalam organisasi detektif besar di Korea, dia bertemu dengan Son Naeun, gadis super dingin yang menjadi seniornya. Masalahnya, L berada dalam lingkaran masa lalu Naeun yg suram.

Part 1 : Welcome to Cullim Killing Unit

Part 2 : Be Nice Training Member, L

maaf ya lama T T aku masih sibuk ngurusin sekolah dan kencan sama rumus-rumus Matematika-Kimia-Fisika yang kayaknya ga ada abis-abisnya /ini kok malah curhat/. oke selamat menikmati!

RCL JUSEYOOO

***

L menjatuhkan diri diatas sofa ruang tamunya kemudian menenggak segelas susu ditangan kanannya. Waktu baru menunjukan pukul 6 pagi. Pemuda itu bahkan sampai tertawa sendiri melihat jam di dinding. Sejak kapan kerbau pemalas sepertinya bisa bangun pagi-pagi buta begini?. Walau matahari sudah menampakan seberkas sinar, tetap saja masih terlalu pagi untuk L.

Salahkan tidurnya yang tidak nyenyak tadi malam. Lebih parah dari itu, ia bahkan tidak bisa tidur hingga memaksakan matanya agar mau mengatup semua. Ini gara-gara acara jalan-jalan malamnya dengan nona Son. Ya, gadis yang seperti jelmaan peri itu membuatnya gila mendadak sejak hari pertamanya di Korea.

Pertama-tama, L berpikir ini adalah part terburuk dalam hidupnya. Kembali ke Korea adalah mimpi buruk, lagipula ia sama sekali tak mengenal negara itu meski ia dilahirkan disana. L memang harus berterimakasih pada Son Naeun yang sudah memberi warna-warna indah dalam hidupnya belakangan ini. Meski wajah tampannya babak belur dan tubuhnya serasa diremukan karena Naeun, ia tetap senang.  

 

“ Kau punya motor? Kenapa aku baru tahu?” tanya Naeun agak kaget ketika L melemparkan sebuah helm padanya. L mengangkat bahunya santai.

“ Memang bukan punyaku” jawabnya. Dengan gesit ia menaiki motor sport hitam itu dan menyalakan mesinnya. “ Kau mau naik atau tidak?”

“ Selama asal-usul motor ini masih tidak jelas, aku tidak mau naik!”. Naeun melipat tangannya didepan dada dengan tatapan curiga kepada L. L menghela nafas, kenapa susah sekali membuat gadis ini merasa nyaman dengannya?.

“ Ini milik pamannya Sungjong, puas? Sekarang ayo naik sebelum aku menggendongmu kesini!”. Naeun mencibir pelan. Ancaman macam apa itu?. Buru-buru gadis itu menaiki motor sport L.

“ Lebih baik pegangan kalau tidak ingin jatuh” pesan lelaki tersebut lalu menyeringai  sebelum tancap gas.

Sekarang Naeun menyesali keputusannya naik motor bersama L. Bagaimana tidak? L membawa motornya dengan ugal-ugalan hingga Naeun berteriak beberapa kali. Gadis itu bahkan mendekap pinggang L erat-erat karena itu satu-satunya jalan agar bisa tetap hidup.

“ HEY L KIM IDIOT CEPAT TURUNKAN KECEPATANMU!” teriak Naeun murka. Bukan L namanya jika langsung menurut. Ia malah semakin menaikan kecepatannya, 125 km/jam. Sebuah tawa lantang keluar dari tenggorokannya.

“ MENYENANGKAN BUKAN?”. L balas berteriak, membuat Naeun langsung mendaratkan sebuah cekikan dileher lelaki itu sampai ia berseru kesakitan.

“ TURUNKAN ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU!”

“ MEMANG KALAU AKU TERBUNUH, KAU TIDAK IKUT MATI? KITA SAMA-SAMA MENAIKI BENDA INI!”. Skakmat! L benar, kalau dia mati berarti Naeun juga ikut mati konyol bersama pria itu.

“ TAPI TURUNKAN KECEPATANNYA, AKU TAKUT!”

“ BERKENCANLAH DENGANKU”           

“ APA?!”

 Naeun mendelik penuh kebencian (walau tidak dilihat L). Ingin rasanya ia menginjak pria itu sekarang juga, tapi itu sama saja cari mati.

“ KAU. AKU. BERKENCAN”. Naeun tidak menjawab, ia hanya diam mendengarnya. Jawaban apa yang bisa ia berikan?. “ ATAU KU NAIKAN LAGI KECEPATAN–“

“ IYA IYA, KITA KENCAN!” sahut Naeun buru-buru. L tersenyum penuh kemenangan. “ TAPI TIDAK HARI INI, OKAY?”

“ AS YOU WISH PRINCESS!”         

 

L kembali tertawa idiot mengingatnya. Sebenarnya tidak ada yang special setelah itu karena L memutuskan untuk mengantar Naeun pulang tanpa makan terlebih dahulu. Anggap saja permintaan maaf karena membuat gadis itu merasakan sensasi kejar-kejaran dengan polisi. Ya benar, setelah acara teriak-teriakan 2 orang muda ini, segerombolan polisi mengejar mereka sebab L sudah menerobos banyak sekali lampu merah.

Tapi itu sama sekali bukan masalah bahkan jika ia tertangkap semalam. L sudah biasa keluar masuk kantor polisi karena semua kebiasaan buruknya: berkelahi, membuat onar, kebut-kebutan, dan lain-lainnya. Catatan atas namanya di kantor polisi Amerika sudah terlalu banyak, untunglah itu masih pelanggaran-pelanggaran wajar. Harusnya ada satu lagi catatan dari polisi mengenai sebuah kasus berat yang pernah dilakukan pemuda ini. Sebuah kasus yang tak pernah ingin L ingat seumur hidupnya.

“ Astaga!”

 L tersadar dari rentetan pikirannya begitu mendengar bunyi gedubrak(?) dari sisi kirinya dan menoleh. Sungjong sedang tersungkur dilantai, dengan wajah super idiot tentu saja.

“ Itu kau? L hyung?” tanya Sungjong, masih dengan kekagetannya.

Sekarang L yang malah bertampang bodoh dengan mengejap-ejap. Bukan bodoh juga, itu tampang bingung. “ Memangnya kalau bukan aku siapa lagi?”. Sungjong berlari menerjangnya tiba-tiba, membuat lelaki bermarga Kim itu tersentak kaget. Dengan wajah percaya tak percaya lelaki manis tersebut menepuk-nepuk pipi kakak sepupunya.

“ Kau sakit? Atau mabuk? Kenapa bisa bangun sepagi ini?” tanya Sungjong heboh. L buru-buru mendorong tubuh mungil adiknya itu. Lama-lama dalam posisi begitu, orang yang melihat bisa mengira mereka gay.

“ Salah kalau aku bangun pagi?” tanya L balik. Sungjong diam, kemudan menggeleng pelan. Firasatnya mengatakan dunia akan jungkir balik jika L bangun pagi. Pria itu tidak pernah bangun kurang dari jam 10. Jam 9 saja sudah sangat amat pagi bagi seorang L Kim.

“ Aku harus mengatur jadwal pergi bertobat, rasanya kiamat sudah dekat” gumam Sungjong polos dan langsung disambut dengan L yang mendorong kepalanya.

“ Dasar bodoh” ejek L lalu tertawa setelahnya. Banyak hal yang membuat L tertawa pagi ini. Seperti Sungjong yang salah menggoreng telur (bukan telurnya tapi malah cangkangnya), berburu kecoa yang berakhir dengan kepala L membentur meja, sampai melihat lingkaran hitam dibawah matanya sendiri. Idiot memang.

Namun tawa itu tidak lama. Sungjong mengubah atmosfer pagi ini menjadi agak canggung. Bukan salah pria itu juga sebab ia hanya melakukan apa yang disuruh.

“ Peniel menelpon”

Sungjong menyerahkan ponselnya pada L ketika namja itu tengah menikmati sarapan pagi buatannya. Gerakan tangan L yang hendak menyendokan omelet kedalam mulutnya terhenti. Ia melirik Sungjong datar dan menghembuskan nafas panjang, dengan malas L meraih ponsel hitam itu dari tangan Sungjong.

“ Kenapa?” tanya L tanpa basa-basi. Moodnya sudah terlanjur memburuk untuk sekedar beramah tamah.

Bagaimana kabarmu, hyung? Apa semua berjalan dengan baik?” tanya sebuah suara dari seberang. Sepupu L yang lainnya, Peniel Shin.

“ Hm. Apalagi?”

Apa aku mengganggumu?

“ Lumayan. Mood bagusku tadi pagi meluap entah kemana begitu mendengar namamu. Terlebih ketika tahu kau menelpon”

Sorry. Tapi ini serius, kau baik-baik saja? Tak membuat hal-hal aneh kan? Kau tahu agak susah mengurusnya jika kita berjauhan seperti ini….

“ Aku bukan pembuat masalah, tak seburuk itu”

Menurutmu aku harus mengirimkan sebuah Harley Davidson kesana? Yang warna hitam? Tapi berjanji padaku kalau kau tak akan ugal-ugalan di jalanan”

“ Paman Lee sudah meminjamkan motornya untukku dan Sungjong, kau tenang saja”

Sebuah hembusan nafas panjang terdengar dari seberang telepon. “ Paman Kim mengatakan kalau ia dengar kau berulah, kau akan terus mendekam disana”

Tak ada hal lain yang bisa L lakukan selain tertawa sinis. Tawa palsu, menutupi kerapuhannya. “ Bilang pada ayah kalau aku akan baik-baik saja”

Jauhi alcohol dan kehidupan malam yang gemerlap. Korea bisa saja lebih buruk dalam membuat jebakan. Kau tak mau hal itu terjadi lagi kan? Jika kau ingin mencoba kedua hal itu, ingatlah nama……

“ Jangan sebutkan atau aku akan membunuhmu, Shin Donggeun” ucap L tajam.

Bulu roma Peniel berdiri mendengar ancaman itu. Mustahil L bisa membunuhnya, apalagi mereka berada di benua yang berbeda. Tapi lelaki tampan itu menurut saja, ia tak ingin kakak sepupunya itu murka. Dan lagi L sampai memanggilnya dengan nama Koreanya, itu sama sekali bukan pertanda baik.

Besok adalah peringatan kematiannya. Berdoalah untuknya. Atau kau mau aku menuliskan sesuatu atas namamu?” tawar Peniel. L memutar kedua bola matanya tak peduli.

“ Pembunuh tak pantas mendoakan korban bunuhannya. Jangan tuliskan apapun atas namaku disana” L pun memutuskan sambungan telepon dan melemparnya keatas meja.

Sungjong shock. Itu ponselnya! Bagaimana kalau tadi jatuh?. Tapi mana berani ia mencak-mencak pada L yang sedang berada dibawah kendali emosinya sendiri. L menenggak susu coklatnya cepat-cepat dan bangkit dari kursi, pergi meninggalkan meja makan. Lelaki manis tersebut hanya bisa memandangi kepergiannya.

“ Hyung, makananmu belum…..”

“ Tak ada nafsu makan”. Jawaban L yang begitu tajam…..setajam……..silet ini membuat Sungjong tak berkutik sama sekali.

“ Baru saja aku melihat wajah bahagianya lagi tadi” gumam Sungjong sedih.

 

***

“ Son Naeun!”

“ Ya?”

Seruan Dongwoon membuat adik semata wayangnya kembali dari lamunan. Pagi ini Naeun dan Dongwoon duduk berhadapan di meja makan rumah mereka, pertemuan pertama mereka dalam bulan ini. Meski kakak-beradik, keduanya memang jarang bertemu karena kesibukan yang dimiliki. Hanya Naeun saja yang rajin pulang ke rumah, sedangkan Dongwoon entah berada dimana.

Son Dongwoon, seorang pengacara muda yang kini tengah naik daun karena keberhasilannya memenangkan kasus tuduhan kerjasama illegal beberapa politisi dengan oknum-oknum Korea Utara. Adiknya memang agak kaget saat menemukannya tertidur di sofa ruang tamu dengan TV yang menyala semalam. Mungkin oppa dari Son Naeun ini terlalu lelah hingga jatuh tertidur sewaktu menunggu yeodongsaengnya pulang.

“ Kau dengar apa yang oppa katakan?”

Dengan perasaan tidak enak, Naeun menggeleng pelan. “ Maaf oppa”

Kini Dongwoon meletakkan sendok dan garpu yang sedari tadi dipegangnya untuk bertopang dagu menatap Naeun. Adiknya itu berusaha tak mengindahkan tatapannya.

“ Coba tersenyum”

Naeun berhenti mengunyah sarapannya dan balik melihat Dongwoon. Matanya memincing. Jelas dia bingung, Naeun tidak sedang salah dengar kan?

“ Apa?”

“ Coba tersenyum” . Kata-kata Dongwoon sama sekali tidak berubah. Naeun tidak salah dengar ternyata. “ Aku sudah lupa bagaimana wajahmu saat tersenyum. Rasanya sudah lama sekali tak kulihat”

Naeun mengejap. Sekali. Dua kali. Entah kenapa ini adalah permintaan sederhana yang begitu sulit untuk ia lakukan. Ia sendiri lupa bagaimana caranya tersenyum tulus, akibat berteman dengan senyum palsu terlalu lama. Sebenarnya Naeun sudah ingin menolak, tapi Dongwoon memberikan tatapan yang Naeun ketahui mengatakan ‘aku tak menerima penolakan’. Gadis cantik itu mendadak bingung. Kenapa susah sekali? Lakukan saja seperti yang biasanya, batin Naeun.

Naeun menarik sedikit sudut-sudut bibirnya.

“ Be…gini?”

Tanpa ia duga, Dongwoon malah tertawa pelan. Tawanya terdengar menyedihkan. “ Kau sedang tersenyum atau menakuti korban yang akan kau bunuh?”

Buru-buru Naeun kembali pada ekspresi yang biasanya. Bibirnya sedikit mengerucut karena komentar kakak lelakinya.

“ Naeun dan tersenyum itu bukan kawan. Jadi keduanya tidak akan cocok” ujar Naeun sambil kembali melanjutkan sarapannya.

“ Jadi yang berkawan denganmu itu kesedihan berlarut-larut ya?” sahut Dongwoon. Kedua orang ini terdiam setelahnya. Yah, salahkan Dongwoon yang membuka portal pembicaraan paling sensitive untuk Naeun. Sekarang Naeun malah kehilangan selera makannya gara-gara kakak lelakinya itu.

“ Tolong jangan mulai lagi oppa” . Pahit sekali. Setiap kata yang keluar terdengar pahit.

“ Mulai apa?” Dongwoon mengelak rasa bersalah yang datang. Menurutnya ini harus diselesaikan. Lagipula ia sudah membiarkan hal ini berlangsung terlalu lama. “ Kita memang harus menuntaskannya. Masalahmu dan Myungsoo. Jika kau tidak mau mengakhirinya, biar oppa yang melakukannya untukmu”

“ Salah kalau aku menyimpan semua kenangan ini?” Senyuman miris kembali terlihat dalam raut wajah Naeun. Sungguh, Dongwoon benar-benar tidak tega melihat adik kesayangannya begini setiap waktu. “ Kau tak bisa membuatku menyingkirkan Myungsoo, oppa”

Dongwoon berusaha sabar. Mengatur kata-kata terhalus agar tidak membuat hati Naeun lebih terluka.

“ Oppa tak menyuruhmu menyingkirkan Myungsoo. Tolong terima kenyataannya, Naeun-a. Myungsoo sudah bahagia disisi yang kuasa!”

“ Aku tahu” sahut Naeun dengan suara parau. Ia menatap mata tegas kakaknya dengan sedikit berkaca-kaca. Hembusan nafas pelan terdengar selanjutnya. “ Tapi maaf, hatiku sudah terlanjur mati bersama jasadnya”

“ Lalu? Cinta yang selama ini oppa berikan? Yang Eunji, Sungyeol, dan teman-temanmu berikan……tidak ada artinya?” Kini Dongwoon terdengar frustasi.

Pria itu merasa gagal menjaga adik kecilnya. Malaikat pribadinya. Sejak orangtua keduanya meninggal sewaktu bertugas di China, Dongwoon dan Naeun hanya tinggal berdua. Dengan seluruh tenaganya, Dongwoon berusaha menghidupi Naeun juga dirinya sendiri. Seluruh cinta dan perhatian ia curahkan untuk Naeun agar gadis itu tidak merasa kekurangan kasih sayang. Kemudian Myungsoo datang, melengkapi segala cinta yang mungkin belum bisa Dongwoon berikan. Segalanya sempurna sampai pemuda tampan itu menginggalkan Naeun untuk selama-lamanya. Sama seperti tuan dan nyonya Son.

Dan sejak saat itu pula Naeun banyak berubah. Keadaan mengarahkan gadis itu ke jalan nan gelap. Lentera-lentera yang ada seolah tak lagi bercahaya sehingga ia selalu merasa sendirian.

“ Kau terlalu keras pada dirimu sendiri, Naeun. Tenggelam dalam kesedihan tanpa mau melihat orang-orang yang selalu membantu dan menyayangimu disini. Sudah waktunya kau bangkit” nasihat Dongwoon.

Naeun tak berekspresi apalagi bereaksi.

“ Mudah untuk oppa mengatakannya” balas Naeun dingin. Nona Son ini kemudian bangkit dari kursinya, memakai tas yang sudah tersampir di sandaran kursi, dan melangkah pergi. Moodnya pagi ini benar-benar hancur jadi sebaiknya ia langsung pergi saja ke kantor. Rencananya untuk berkangen-kangenan ria dengan sang oppa pupus sudah.

“ Semoga harimu menyenangkan, adik” ucap Dongwoon lembut, membuat langkah Naeun terhenti sejenak.

“……….Oppa juga” balas Naeun setelah beberapa lama.

 

***

Naeun mendadak terdiam dengan wajah datar begitu melihat tanggalan yang tertera di layar ponselnya. Hari ini tanggal 14. Tanggal 14………pikirannya mulai melayang. Tanggal 14 memiliki arti tersendiri bagi Naeun. Tanggal dimana ia memulai cerita cinta masa SMA-nya dengan Myungsoo sampai tanggal dimana lelaki itu direnggut secara paksa dalam kecelakaan maut yang menewaskannya 3 tahun lalu. Mengenaskan, itulah kata yang menggambarkan kondisi Myungsoo. Mobil yang ia kendarai mengalami kebocoran bahan bakar dan menabrak pembatas jalan, terlempar kemudian terbalik. Ledakan pun tak bisa dihindari. Benda besi itu terbakar bersama tubuhnya.

Hati Naeun mendadak pilu. Selalu seperti itu juga memorinya dengan seseorang bernama Myungsoo itu terniang. Rasa sakit yang sama ketika ia tahu bahwa Myungsoo sudah tak lagi berada di dunia. Maka dari itu, setiap tanggal 14 Naeun selalu mengunjungi makam Myungsoo dengan membawa bunga kemudian melemparkan kelopak-kelopak mawar putih di lokasi kecelakaan Myungsoo.

Dan Kai selalu menemaninya. Lebih kepada supir pribadi Naeun jika kita melupakan bahwa lelaki berkulit gelap itu bukan salah satu agen CKU. Kai yang selalu mengantar-jemput Naeun kemanapun gadis itu ingin pergi. Orang yang ada disana untuk menghibur dan membantu Naeun, selain Eunji, Sungyeol, dan anggota CKU lain tentunya. Naeun beruntung berada dalam lembaga itu, baginya CKU sudah seperti keluarga. Pilihannya tidak salah untuk masuk kesana, Myungsoo seolah memberikannya keluarga baru karena alasan Naeun berada ditempat itu tak lain adalah meneruskan cita-cita kekasihnya, menjadi agen CKU.

Pikiran-pikiran Naeun langsung lenyap berganti dengan kekagetan begitu ia merasa bahunya ditepuk beberapa kali dari belakang. Cepat-cepat ia berbalik. Matanya mengejap karena masih terkejut. Dihadapannya ada seorang lelaki jangkung dengan kemeja lengan panjang berwarna putih tengah tersenyum lebar sembari melambaikan tangan.

“ Pagi nona Naeun!” ucapnya bersemangat. Naeun tertawa kecil setelahnya.

“ Ya. Pagi juga tuan Jongin” balas Naeun pelan. Pria itu adalah Jongin atau yang akrab disebut Kai. “ Senang sekali menjadi ninja yang tiba-tiba muncul di pagi buta begini. Seingatku rumahmu tak mungkin lewat sini jika akan pergi ke kantor”

Kai memasukan kedua tangannya dalam kantong celana dan mengangkat bahunya santai. “ Aku tidak keberatan untuk mengemudi sedikit lebih jauh demi menawarkan temanku ini sebuah tumpangan”

“ Baiklah, aku mengenalmu dengan baik, Kim Jongin. Tipikal orang yang tak mudah menyerah. Aku lupa sudah berapa banyak kali menolak semua tawaranmu”

Kata-kata gadis itu membuat Kai terkekeh pelan.

“ Kalau begitu jangan membuat usahaku ini menjadi sia-sia. Pergilah ke kantor bersamaku”

Naeun berfikir sebentar. Tidak ada ruginya, malah untung karena ia bisa menghemat uang ongkos. Lagipula akhir-akhir ini suka turun hujan tanpa diduga. Tentunya tawaran ini akan menjadi sangat bermanfaat. Tapi…..

“ Kau tak akan memintaku menemanimu sarapan terlebih dahulu kan?” tanya Naeun was-was. Kai membulatkan matanya takjub.

“ Benar-benar mengenalku dengan baik rupanya. Aku tersanjung lho” Kai tertawa lagi. Kali ini terdengar begitu bahagia. “ Hanya sarapan, tidak akan lama. Lagipula mobilku sudah terlebih dahulu ada disana”

“ Sayangnya pagi ini aku sedang tidak berselera” tolak Naeun halus.

“ Tapi aku lapar……..”

“ Kalau begitu, sarapanlah. Aku berangkat duluan”

Naeun baru saja akan melangkah melewati Kai. Tapi tangannya sudah dicekal lelaki itu. Mata tegas itu berubah jadi memelas.

“ Ayolah Son Naeun. Apa aku harus ber-aegyo dulu agar kau mau? Hm?” . Kai yang kekanak-kanakan serta Naeun yang pada dasarnya mudah luluh hati. Gadis itu tak mungkin tega.

“ Jangan merusak image-mu yang keren itu” Naeun menyentuh dahi Kai dengan telunjuknya lalu mendorong kepala lelaki itu. “ Dasar anak kecil”

Kai mendengus pelan. “ Aku lebih tua darimu 2 bulan, Naeun-a”

“ Terserahlah” Son Naeun mengibas-ibaskan tangannya. “ Cepat kita pergi sarapan sebelum aku berubah pikiran”

Senyum lebar kembali muncul diwajah tampan Kai. Dengan penuh semangat, ia merangkul bahu Naeun dan melangkah menuju kedai kecil di seberang jalan. Sebenarnya lelaki itu punya keinginan besar untuk menggenggam tangan Naeun tapi Kai tidak mau gadis itu malah menjauh darinya. Nona Son memang agak sensitive dengan hal-hal begitu, apalagi jika ia melakukannya dengan lelaki lain. Menurutnya itu sama seperti selingkuh dari Myungsoo.

Sebagai rekan kerja selama 2 tahun lebih, Naeun dan Kai memang cukup dekat. Lelaki itu berhasil membuat Naeun merasa nyaman berada didekatnya. Kai tak pernah menciptakan obrolan yang berujung menggali memori tentang Myungsoo. Dan Kai sangat hati-hati dalam hal ini. Selain tak mau Naeun jadi sedih, ia juga agak…..ehm, cemburu. Sampai sekarang lelaki itu masih penasaran apa rahasianya hingga Naeun cinta setengah mati pada almarhum Myungsoo.

Setibanya di kedai, Kai menarikan kursi untuk Naeun duduk. Trik-trik membuat Naeun merasakan bagaimana Kai menjadikannya sebagai gadis yang special. Meski ia terlalu mati rasa untuk sadar. Lelaki bermarga Kim tersebut kemudian mengambil tempat didepan Naeun.

“ Jadi…..benar-benar tidak mau makan?” tanya Kai. Naeun menggeleng mantap.

“ Tapi aku ingin menikmati segelas susu coklat. Bolehkah?”

“ Tentu”

Kai memanggil seorang pelayan untuk mencatat pesanan mereka. Setelah pelayannya pergi, Kai memulai kegiatan favoritnya, menatap Naeun. Apalagi ketika gadis itu sedang sibuk dengan bukunya saat ini. Agak kelabakan juga saat Naeun tiba-tiba menatap Kai balik.

“ Hei Kai”

Kai megap-megap sebentar. “ H-hah?”

“ Nanti antar aku pergi ke Judae dan jalanan menuju Hongdae ya” pinta Naeun tanpa basa-basi. Kai mengangguk pelan. Itu adalah pemakaman dimana Myungsoo bersemayam dan jalanan yang menjadi saksi bisu kematiannya.

“ Perlu juga kuantar ke tempat penjual bunga yang bagus?” . Naeun mengangguk dan tersenyum. Tangan kirinya terulur mengacak-acak rambut Kai. Yah, Kai jadi sedikit sesak nafas sekarang.

“ Kau yang terbaik. Terima kasih ya!”

Tak mau Naeun mengetahui sindrom ‘lupa bernafasnya’, Kai buru-buru mengalihkan pandangannya pada buku menu diatas mejanya. “ Bukan masalah”

“ Oh? Naeun? Kai?”

Kedua insan itu sontak menoleh begitu mendengar namanya disebut. Naeun tersenyum tipis. Beda dengan Kai yang malah berubah malas.

L kini berdiri disamping meja keduanya dengan nampan berisi makanan.

“ Aku tidak tahu kalian akan ada disini” Tanpa malu-malu, L beringsut duduk disamping Naeun dan tersenyum manis. Itu hanya basa-basi saja karena L memang berniat menjemput Naeun. Tanpa motor, ia merasa akan menerima penolakan jika masih membawa benda itu untuk ditumpangi Naeun. Terlebih sejak adegan di kejar polisi semalam.

Naeun menatap L begitu lama. Dan Kai….yah perlahan-lahan lelaki itu mulai badmood. Baginya L adalah ancaman. Ancaman yang sangat membahayakannya.

“ Kau sendiri….bagaimana bisa ada disini?” tanya Naeun. L tak langsung menjawab sebab masih harus menyantap makanannya terlebih dahulu.

“ Aku salah naik bus tadi. Dan begitu tiba di tempat ini, aku langsung turun. Seingatku ini dekat jalan menuju rumahmu. Ternyata aku tidak salah ya” jelas L dengan mulut penuh sembari tersenyum idiot. Ia melupakan pagi menyebalkannya tadi. Karena Naeun.

Tanpa diduga, Naeun menyambar tissue dan mengelap sudut bibir L.

“ Kau ini. Jangan makan sambil bicara, seperti anak kecil saja” komentar Naeun. L membeku akibat perlakuan Naeun. Wajah keduanya kini cukup dekat. Seluruh system kerja tubuh L dan Naeun seolah mogok kerja ketika mata mereka bertemu. Tapi……yang mereka tatap bukanlah sosok itu sendiri. Naeun membayangkan Myungsoo sedangkan L membayangkan…..sosok lainnya.

“ Ehem”

Kai langsung berdehem menyaksikan peristiwa didepan matanya. Naeun dan L sadar sehingga cepat-cepat menjauh. Keduanya pura-pura mencari kesibukan, Naeun sok-sok merapihkan pakaiannya dan L menyambar segelas air putih untuk diminum.

Sebenarnya Kai sudah ingin mengajak Naeun pergi dari situ sebelum L mengubah acara sarapannya yang seharusnya menyenangkan menjadi sangat buruk. Tapi tidak jadi karena pelayan sudah terlanjur mengantarkan pesanan.

“ Terima kasih” ucap Naeun dan Kai bersamaan pada pelayan. Baru saja Kai akan menelan makanannya, tapi keburu tersedak karena percakapan L dan Naeun.

“ Kau tidak makan?” tanya L. Naeun menggeleng.

“ Tidak lapar”

L mendengus pelan. Lelaki itu menyendok sarapannya dan mengarahkannya pada Naeun. “ Buka mulutmu” suruhnya pelan.

Naeun menajamkan tatapannya. “ Mau apa kau?!”

“ Menyuapimu. Memang apa lagi”. Melihat gelagat Naeun yang tidak mau membuka mulutnya, L jadi tidak sabaran. “ Buka mulutmu. Atau aku yang membukakannya untukmu”

“ Ehek!”

Kai terbatuk-batuk hebat. Naeun dan L yang kelabakan membantunya. L menyodorkan segelas air putih sementara Naeun menepuk-nepuk pundak Kai prihatin.

“ Lain kali kalau makan pelan-pelan. Selapar apapun jangan sampai lepas control” nasihat L polos.

Kai melotot kesal. Rasa-rasanya ia ingin berteriak, ‘semuanya karena kau, bodoh!’,  hanya saja rasa sakit ditenggorokannya tak mengijinkan. Tidak ada pilihan lain selain menenggak air dari L, meski tidak sudi.

“ Kau tidak apa-apa, kan?’ tanya Naeun kemudian. Mendadak semua rasa kesal Kai hilang begitu menemukan semburat khawatir di mata gadis itu. Ia menggeleng.

“ Aku baik-baik saja” jawab Kai mantap.

 Ketiganya kembali menikmati sarapan mereka dengan tenang.

“ Oh ya, Naeun” L yang baru saja menyelesaikan sarapannya pun menoleh pada Naeun. Naeun balik menatap lelaki itu. “ Kau akan pergi dengan apa?”

Sebelum Naeun sempat menjawab, Kai sudah memotongnya. “ Naeun berangkat bersamaku. Dengan mobil”

Rupanya Kai sudah membaca gelagat L yang ingin mengajak Naeun berangkat kerja bersama. Tapi bukan L namanya jika ia tak berhasil menjalankan rencananya. Ia sudah sampai disini, dan akan memalukan baginya jika Naeun tidak pergi dengannya. Lelaki dari negara Paman Sam itu mulai memutar otak.

“ Berarti aku harus menunggu sebentar di kantor” gumam L dengan nada lesu yang dibuat-buat (walaupun terdengar nyata. Ini hal mudah untuk L. Sudah biasa ia lakukan). Ia merasa berhasil menarik simpati Naeun begitu gadis itu memiringkan kepalanya bingung.

“ Kenapa kau harus menunggu?”

“ Aku sudah selesai makan dan akan pergi sebentar lagi. Kurasa kau akan menunggu Kai dulu, atau malah pergi ke suatu tempat dahulu. Otomatis kau datang lebih lama dariku, akibatnya aku harus menunggumu. Siapa yang akan men-trainingku jika bukan kau, Dark Angel?”

Naeun dan profesionalitasnya terhadap pekerjaan. Gadis berambut seindah sutra tenun itu nampak diam dan berfikir. L ada benarnya juga.

“ Iya. Mungkin juga seperti itu” kata Naeun akhirnya.

Untuk kesekian kalinya Kai berhenti makan. Ia lebih tertarik menunggu kata-kata Naeun selanjutnya. Walau perasaannya mulai tidak enak.

“ Jadi?”

“ Jadi apa?”

“ Tak bermaksud menghancurkan…..ehm…..acara kalian, tapi ada baiknya kau memilih. Berangkat dengan mobil atau berangkat dengan bus saja? Lagipula kau sudah selesai sarapan”

Sialan!, umpat Kai dalam hati. Ia tahu betul maksud kalimat itu, yang secara blak-blakan menjadi ‘berangkat dengan Kai atau denganku’. Ingin rasanya Kai menancapkan garpu yang digenggamnya ke dada L. Biar mati sekalian. Tapi tidak mungkin kan? Satu-satunya yang dapat dilakukan adalah sabar. Entah sampai kapan. Terlebih setelah……

“ Kai, sepertinya aku akan berangkat naik bus saja” ucap Naeun agak ragu. Bersyukur karena Kai tidak sedang mengunyah karena kemungkinan besar ia akan tersedak lagi. Matanya membulat kaget.

“ Kenapa?”

“ Kata-kata L ada benarnya. Aku punya tanggung jawab untuk men-trainingnya. Lagipula ini hari terakhir jadi…….maafkan aku”

Tak ada hal lain yang bisa Kai lakukan selain menelan rasa kecewa dan mengangguk pelan.

“ Tidak apa-apa. Aku mengerti” sahutnya. “ Tapi aku yang tetap akan mengantarmu ke Judae kan?”

Naeun mengangguk cepat. Kai tersenyum. Setidaknya ada kesempatan lain hari ini. L dan Naeun bangkit dari tempat mereka.

“ Kami berangkat duluan, Kai” pamit L sopan.

“ Ya”

“ Hati-hati dijalan, Jongin-a” pesan Naeun sebelum meninggalkan partnernya dulu.

“ Kau juga, Naeunie”

Dengan berat hati, Kai melepaskan Naeun untuk berangkat bersama L.

***

“ Hei L”

Naeun sedikit berbisik memanggil lelaki disampingnya. L, ia menoleh dengan wajah tanpa dosa hingga Naeun menjadi dongkol. Keduanya sudah berada di dalam bus menuju gedung Cullim Killing Unit tapi kurang beruntung karena L serta Naeun tidak mendapatkan tempat duduk. Jadi sepasang sunbae-hoobae ini terpaksa berdiri.

“ Iya, Naeun?”

Nada bicaranya sangat lembut. Mata elang itu pun terlihat amat teduh. Perlahan Naeun kehilangan kata-katanya.

“ Sok baik sekali” cibir Naeun. Rasa gengsi untuk mengakui lelaki disampingnya ini berhasil membuatnya nyaman terlalu besar. Sulit dihadapi.

L mengangkat bahunya ringan. “ Tidak sok baik. Aku memang seperti ini dari awal”

“ Terserahlah” Naeun mulai mencuri-curi pandang kearah bawah. Melirik sesuatu yang membuatnya menahan protes sedari tadi. “ Oh ya, kau sudah bisa melepaskan genggamanmu sekarang”

Seolah tersadar, L pun menarik tangan kirinya yang barusan menggenggam erat tangan Naeun kemudian menggaruk-garuk tengkuknya malu.

“ M-maaf. Eh tapi aku tidak salah! Kau saja yang bodoh, sudah sebesar ini tapi tidak bisa menyebrang jalan. Kalau tadi kau tertabrak bagaimana? Kan aku yang repot nantinya. Seperti aku punya uang saja untuk membiayaimu” cerocos L.

Naeun memang punya kebiasaan buruk ketika menyebrang yaitu tidak suka melihat sekelilingnya dan terus berjalan. Seringkali ia dicaci maki para pengendara mobil serta motor. Tadi pagi pun begitu, untunglah ada L yang dengan sigap menariknya. Jika tidak, mungkin Naeun sudah disenggol oleh sepeda motor yang melintas.

“ Aku tidak memintamu menolongku” sahut Naeun datar. L pun kesal dibuatnya.

“ Oh? Jadi begitu? Ya sudah lain kali akan kubiarkan kau, biar saja mati konyol ditabrak truk yang lewat! Tidak tahu terim–“

Kata-kata L terhenti ketika Naeun malah menguap, bukannya merasa bersalah. Namun bukan itu intinya. L sendiri tidak tahu mengapa dadanya sedikit berdesir begitu memandang gadis itu. Dia…..kenapa menguap saja kesannya cantik sekali, batin L. Sekarang mata Naeun bersayup-sayup bagaikan orang menahan kantuk.

“ L” Naeun memaksakan matanya yang sudah ingin mengatup untuk memandang calon partner kerjanya. “ Bangunkan aku jika sudah sampai ya”

Dia bercanda kan?. L shock dan bingung disaat yang bersamaan. Gadis ini……mau tidur? Dalam keadaan berdiri seperti sekarang ini?. Baru saja lelaki itu mau menganggap Naeun hanya bercanda dengannya, tapi sang senior sudah menutup matanya dengan tenang. Nafasnya nampak teratur. L pun tersenyum miris.

“ Kasian sekali. Pasti dia amat mengantuk” gumam L prihatin.

Dipandangnya wajah Naeun yang sedang terlelap. Polos dan damai. L seolah merasakan angin sejuk menerpanya saat memperhatikan Naeun. Bahkan kini jantungnya kembali memompa dengan cepat dibalik rongga dadanya. Ini gila. Gadis ini membuatnya gila.

Satu tarikan nafas cepat diambil pemuda bermarga Kim itu saat tubuh Naeun tiba-tiba ongleng dan genggamannya pada tiang pegangan terlepas. Sayangnya (atau malah untungnya) tubuh gadis itu jatuh kearah L sehingga dengan sigap lelaki itu menahannya. Detak jantungnya semakin tidak karuan ketika Naeun menubruk dada bidangnya.

Sekarang L yang repot. Dia harus terus berpegangan sementara tangannya yang lain menahan tubuh gadis itu agar tidak jatuh. Ia berusaha tidak mengindahkan orang-orang yang sudah berbisik-bisik heboh. Seulas senyum terlukis ketika ia mendengar ada yang bilang, namja itu manis sekali. Kekasihnya sungguh beruntung.

Hanya saja kebahagiaan itu tidak terlalu lama berlangsung. Terlebih saat potongan-potongan kisah masa lalu L beringsut kedalam pikirannya. Kejadian ini….pernah terjadi. Bahkan sering terjadi. Dulu sekali, sebelum dia pernah merasakan cinta. Sebelum dia pernah merasakan kehilangan. Sebelum dia menjadi L yang bejat dan brengsek.

L menarik salah satu sudut bibirnya, membentuk senyum sinis. “ Kau sedang menghukumku kan, Jia?”

***

“ L Kim-ssi”

“ Ya………ASTAGA!”

L terkejut setengah mati ketika ada sebuah benda asing melayang cepat kearahnya. Untunglah dengan cepat tangan kanan lelaki itu menangkapnya. Matanya memincing melihat benda di tangannya sekarang. Sebuah kunci mobil. Seorang wanita berambut coklat kehitaman tengah berdiri di lorong tempat L sekarang, menyeringai.

“ Refleksmu bagus juga. Aku suka” puji wanita itu sembari melangkah mendekat. Entah kenapa L merasa ia berada dalam keadaan siaga satu. Terlebih saat seringai lawan jenisnya itu tidak luntur sama sekali.

“ A-ada apa, Chorong-ssi?” tanya L was-was. Yup, salah satu senior wanita yang memberikan L mimpi buruk di hari pertamanya. Wanita pertama yang menghajarnya tanpa ampun bahkan sampai membanting dan menjepit lehernya dengan lengan. Chorong adalah mimpi buruk bagi L, sama seperti kekasihnya yang (menurut L) jelmaan monster itu. L tak akan lupa siapa namanya, Nam Woohyun, senior dengan segudang pertanyaan super sulit pada wawancara pertama.

Tanpa L duga, Chorong tertawa. Bukan tawa mengejek atau semacamnya, tapi tawa senang. Raut wajahnya yang menyeramkan itu berubah menjadi segar dan berseri. Tanpa canggung dan malu, Chorong merangkul L. Ia bahkan mengacak-acak rambut lelaki itu.

“ Kau ini kaku sekali padaku” L sampai terperangah melihat seniornya berubah 180 derajat dari yang biasa dia liat. Apakah orang-orang ini memang punya pribadi ganda?. “ Panggil saja aku ‘Chorong noona’. Itu lebih nyaman, mengingat sebentar lagi kita akan menjadi keluarga”

“ Keluarga?”

“ Ya, keluarga. Seluruh staff Cullim Killing Unit adalah keluarga. Artinya, kau akan menjadi adikku”

Senyuman Chorong begitu manis, membuat L perlahan mengurangi rasa ketakutan dan penilaian buruknya terhadap gadis bernama lengkap Park Chorong itu. L kemudian membalas senyum Chorong.

“ Senang memanggilmu noona” ucap L. Pemuda tampan itu pun melirik sebuah kunci mobil di tangannya. Ia menggoyang-goyangankan benda itu di depan Chorong. “ Ngomong-ngomong untuk apa benda ini kau berikan padaku?”

“ Itu milik Woohyun” kata Chorong, yang tak menjawab pertanyaan L barusan. Dahi lelaki itu berkerut bingung. Lalu? Kenapa kunci mobil Woohyun harus diserahkan padanya?.

“ Memang untuk apa?”

“ Nanti kau akan tahu. Lebih baik hampiri Naeun dulu, biar dia saja yang memberikanmu instruksi. Aku sedang malas bicara sampai mulut berbusa”

Chorong tersenyum sekali lagi sebelum ia berlalu meninggalkan L dan wajah menganga. Entah kenapa ia merasa akan mendapat sebuah kejutan hari ini. Yang lebih hebat daripada di banting, di cekik, dan di tending kemarin.

Jadi kemana ia harus pergi sekarang? menemui Naeun?. Belum apa-apa L sudah menyerah duluan. Ia malas jika harus memasuki ruangan agen, traumanya gara-gara tes fisik kemarin masih belum hilang. Bisa-bisa lututnya gemetar kalau melihat wajah-wajah sangar disana. Lemah ya, L pun merasa kalau kekuatannya seperti tersedot ketika ia menginjakan kakinya di negeri gingseng ini.

Lelaki itu kemudian menarik nafasnya dalam-dalam sebelum melangkah mantap (atau lebih tepatnya dimantap-mantapkan) ke ruang kerja agen. Jari-jarinya memainkan kunci mobil Woohyun guna menetralisir stress yang mendera. Ngomong-ngomong L mulai berfikir kalau seniornya yang seperti monster itu lumayan keren, jika dilihat dari mobil yang dimilikinya. Pontiac Firebird, bukankah itu hebat?.

“ Hai L”

L menoleh ke kanan begitu mendengar ada yang memanggilnya. Matanya membulat dengan nafas tertahan. Dari sana, sosok Woohyun dengan senyuman lebar menghampirinya dan meninju pelan bahu lelaki itu.

“ Kenapa berdiri disini? Masuk saja” ucap seniornya ramah. Berbeda dengan yang L liat beberapa waktu lalu. Hah, orang-orang ini memang berkepribadian ganda!.

“ Aku……baru saja tiba di depan sini, hyung. Baru mau mengetuk pintunya” sahut L canggung. Woohyun pun mangut-mangut mengerti. Tangan kiri pria kelahiran ‘91 itu bergerak merangkul L.

“ Nanti jaga Naeun dan Chorong-ku ya. Gunakan mobil itu dengan hati-hati karena memperbaikinya agak susah, kau tahu kan?”

“ Hah?!” L melotot kaget. “ Kenapa aku harus membawa mobilmu? Dan kenapa aku harus menjaga kekasihmu?”

“ Karena tutormu pagi ini adalah Chorong unnie” sahut Naeun yang baru saja keluar dari ruangan agen.

Sekarang L pasti terlihat sangat bodoh dengan mulut menganga seperti itu.

“ S-sejak kapan?” tanyanya terbata. Terlalu shock sepertinya.

Naeun mengangkat bahunya dan tertawa kecil. “ Maaf ya, harusnya aku beritahu kau terlebih dahulu. Aku bukan pengemudi yang baik jadi butuh bantuan Chorong unnie untuk hal ini”

Berbahagialah karena L tidak pingsan saking kagetnya. Ini benar-benar kejutan. Tidak, ini adalah beban besar!. Riwayat menyetirnya kerap kali berakhir tidak baik, seperti kecelakaan dan mobil penyok misalnya. Tapi sekarang ia malah harus bertanggungjawab atas Naeun, Chorong, dan juga Pontiac Firebird milik Woohyun. Salah-salah sedikit ia bisa saja dibuat terkapar di jalanan agar dilindas oleh traktor.

“ Tunggu apa lagi? Ayo jalan!” ajak Naeun dengan senyum lebar lalu menggandeng tangan L pergi ke sirkuit latihan. Kelihatannya Naeun senang sekali melihat L yang merasa mau mati itu.

***

“ BANTING SETIRNYA!”

L membanting setir kearah kiri secepat yang ia bisa setelah mengambil celah cukup banyak di jalanan. Dari dalam mobil dapat terdengar suara decitan cukup besar, gesekan antara ban mobil dan jalanan sirkuit. Pontiac Firebird merah itu kembali melaju secepat angin. Tentu saja, kendaraan tersebut berada dalam kecepatan 175 km/jam sekarang.

Didalam mobil itu, ada L yang duduk di kursi pengemudi, Chorong di kursi pendamping pengemudi, dan Naeun dibagian belakang. Wajah L menegang sedari tadi, beda dengan dua gadis yang terlihat santai-santai saja. Chorong, tutor terhorror yang pernah L temui. Ia langsung menyuruh L mengemudi dengan kecepatan tinggi serta membuat mobil itu berjalan belak-belok. Katanya dia ingin tahu bagaimana cara L mengendalikan mobil dalam keadaan seperti ini.

Keringat dingin terus mengalir dari pelipis L tanpa henti sejak awal. Mungkin otaknya juga sudah merancang ratusan penjelasan serta rencana seandainya nanti mobil bagus ini serta orang-orang didalamnya tidak selamat.

“ Jika kau ingin mengerem, ambil jarak yang cukup jauh. 50 meter sepertinya ideal untuk kecepatan begini” terang Chorong. L mengangguk saja. Apa lagi yang bisa ia lakukan?.

“ Dan kalau mau mengurangi kecepatan, lebih baik tinggalkan saja pedal gasnya. Jangan injak rem, itu bisa sangat fatal” tutor Chorong lagi.

Gadis bermarga Park itu tersenyum puas ketika dengan mulusnya L berbelok di tikungan tajam. Sepertinya latihan serta tes kali ini cukup sukses.

“ Habis ini bagaimana?” tanya L tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan. Ia tak mau macam-macam, salah sedikit ia bisa saja tinggal nama.

“ Berhenti tepat di depan pintu masuk sirkuit” jawab Chorong tenang.

Refleks L menoleh dan menatap wanita itu seolah ia sudah gila. “ Jaraknya hanya sekitar 30 meter dari sekarang, noona!”

“ Lakukan saja. Aku tahu kau pasti bisa. Lakukan dengan mulus”

Baiklah, Chorong memilih cara yang tepat untuk membunuh L. Sekarang lelaki itu memikirkan banyak cara untuk bisa berhenti tepat disana. Jaraknya kian dekat. Itu artinya jika ia salah mengerem, mobil bagus ini bisa saja terbalik.

Pelan-pelan, L meninggalkan pedal gasnya, beralih pada pedal rem yang mulai ia injak dengan begitu pelan. Jantungnya sudah melompat-lompat ditempat saking takutnya.

 Dari belakang, Naeun sudah bergidik ngeri. Takut kalau L gagal melakukan yang satu ini. Mulutnya sudah menyuarakan ratusan doa penangkal maut agar mereka bisa berhenti dengan selamat sentosa.

Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit!

Decitan itu terdengar begitu keras ketika Pontiac Firebird tersebut berhenti. L perlahan membuka matanya yang tadi ia tutup karena takut. Wajahnya langsung berseri-seri.

“WOHOOO AKU BERHASIL!” teriak L sambil membanting diri ke sandaran kursi. Tangannya terus meninju udara sambil berkata ‘yes yes’ tiada henti.

Naeun mengelus-elus dadanya, bersyukur karena masih hidup sedangkan Chorong mengulurkan tangannya untuk mengacak-acak rambut L.

“ Kau melakukannya dengan baik, L” puji Chorong. L tersenyum malu-malu. “ Kurasa kau akan menjadi pengemudi yang hebat, seperti Woohyun. Dan sekarang si idiot itu pasti puas dengan laporan tes mengemudimu”

Pemuda kelahiran tahun 1992 itu menatap sunbaenya dengan mata berbinar. “ Aku lulus? Lulus dengan baik?”

“ Ya, kau dapat nilai A+” Chorong terkekeh pelan ketika L kembali heboh saking senangnya. Ia menoleh kebelakang, melihat Naeun. “ Naeun, kau temani dia dulu disini. Aku akan melapor pada Woohyun”

“ Ne, unnie” sahut Naeun kalem.

Begitu Chorong keluar dari mobil, L langsung menyuruh Naeun untuk duduk didepan bersamanya. Naeun menurut saja, ia pindah ke tempat Chorong duduk tadi.

“ Kau lihat yang barusan? Aku hebat kan?” tanya L dengan rasa bangga tingkat tinggi. Ia melihat pantulan dirinya melalui kaca spion dan tersenyum sombong.

Naeun tak bisa menahan diri untuk tidak mencibir.

“ Tch, berlebihan sekali” respon Naeun. L mencengkram stir dengan kedua tangannya serta mata menatap lurus kedepan.

“ Menyetir dengan kecepatan tinggi dan di dikte seperti tadi itu bukan hal yang mudah lho” ujar L, masih berusaha membuat Naeun terkesan dengan ‘keajaiban’ yang dia lakukan. “ Kau harus tahu bagaimana otakku yang panic dan perasaanku yang kalut berkolaborasi untuk menghentikan benda ini. Kalau saja aku tidak hebat, pasti kita semua sudah mati. Yah….minimal masuk rumah sakit lah”

Naeun memutar bola matanya malas. Sebenarnya hatinya sudah ingin memuji L, tapi ia tahan. Gadis itu tidak mau L tambah besar kepala dan malah mengganggunya nanti.

“ Sebenarnya biasa saja” Naeun menggigit lidahnya. Ia memang tak bisa menahan diri untuk tidak memuji. “ Tapi setidaknya lumayan. Cukup baik”

L tak bisa menghentikan diri untuk tidak tersenyum lebar. Ia membalikan tubuhnya agar bisa melihat Naeun dengan lebih leluasa.

“ Apa menurutmu aku bisa menjadi pembalap yang hebat?”

Entah kenapa, tepat setelah L berbicara, pandangan Naeun mengosong. Pikirannya tidak focus dan mulai berterbangan, membuka peti kenangan yang pernah ia lalui. Gadis itu ingat, pernah ada yang menanyakan hal itu padanya. Seseorang yang rupanya sama dengan pria dihadapannya itu. Cerita masa lalu mengalir dibenaknya seperti potongan film romansa pendek.

 

Ciiiiiit!

“ Ahh~” Dua insan terbanting kembali pada sandaran kursi mereka ketika mobil berhenti. Keduanya saling beradu pandang dan tertawa setelahnya. Sepasang remaja ini baru saja berkendara dengan kecepatan diatas rata-rata, untunglah malam itu tidak terlalu ramai.

“ Demi apapun, kau sudah gila!” seru gadis itu sambil mendorong bahu lelaki disampingnya. Dengan tawa yang masih belum mau berhenti.

“ Akui saja kalau kau suka, Naeun-a” sahut lelaki itu, yang juga masih tertawa. Menertawakan nasip baik mereka dengan lolos dari maut.

“ Aku hampir saja serangan jantung disini, Myungsoo-ssi. Kau hampir membawaku ke neraka bersamamu dan mobil laknatmu ini! Hahahahaha”

“ Bukan masalah, neraka akan menjadi surga jika kau terus disampingku”

Myungsoo, ia memutar posisi tubuhnya menghadap Naeun. Tawanya berganti dengan tatapan penuh arti. Tak lama kemudian tawa Naeun berakhir. Dahi gadis itu berkerut.

“ Apa?” tanyanya bingung. Ia melihat kebawah, memeriksa apakah ada yang salah dengannya sampai-sampai kekasihnya menatap ia seperti itu. Tepat setelah Naeun kembali mengangkat muka, wajah Myungsoo sudah berjarak amat dekat darinya. Refleks Naeun memundurkan kepala. Kedua pipi gadis itu memanas.

“ K-kau…..mau apa?” astaga, Naeun bahkan tak menyangka suara yang akan keluar akan menjadi serak dan bergetar seperti itu. Myungsoo tersenyum kecil. Lelaki itu kemudian bangun sedikit dari duduknya demi mendaratkan kecupan hangat didahi Naeun dan kembali ke posisinya.

“ Oh ya, apa menurutmu aku bisa menjadi pembalap hebat?” tanya Myungsoo.

 

Semuanya seperti kembali pada waktu lalu, dimana Naeun tidak sempat menjawab pertanyaan Myungsoo dan malah memukuli lengannya karena membuatnya kaget hingga sesak nafas. Saat-saat ketika Myungsoo mengacak-acak rambutnya lalu berbisik manis di telinga Naeun, mengatakan bahwa gadis itu lucu sekali jika sedang kaget. Naeun bahkan masih ingat betapa gugupnya ia saat itu.

“ Oy Naeun” L angkat suara setelah lama tidak direspon oleh gadis didepannya. Ia mencolek bahu Naeun. “ Hey Na……”

Segalanya berlangsung terlalu cepat, bahkan L tidak bisa mencerna apa yang terjadi tepat saat ia merasakan tangan Naeun mengait dibelakang lehernya dan maju, menyentuh bibir L dengan bibirnya sendiri. Mata L membulat shock, berbeda dengan Naeun yang menutup seolah menikmati. Sial! ‘kontak’ ini membuat L benar-benar tidak bisa nafas dalam waktu cukup lama sampai Naeun melepaskannya.

Gadis itu menangkup wajah L dengan kedua tangannya, menatap lelaki itu sendu. Senyum yang muncul diwajahnya pun tampak getir. Bibirnya bergetar.

“ Aku……..merindukanmu……”

Jarak sedekat ini, dimana tanganmu tak bisa meregang diantara jaraknya, membuat L dapat merasakan hawa manis dari yeoja didepannya. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menghirup udara yang ada. Hembusan nafasnya bahkan tertahan.

“ Eung…..err…..ya, t-tapi…..ak-u……..bukan Myungsoo”

L merasa lega karena bisa menyelesaikan kalimatnya dengan baik. Seperti tersadar, Naeun mengejap-ejap sebentar sebelum akhirnya bergerak mundur. Ia pun menundukkan kepala hingga rambut indahnya menjuntai menutupi wajah.

“ M-maaf……a-aku sama sekali tidak bermaksud…”

“ Sudahlah” L menarik nafas dalam-dalam sebelum ia lupa caranya. “ Lagipula itu……hanya ciuman. Anggap saja aku membantumu melepas rindu pada Myungsoo. Itung-itung balas budi”

“ Balas budi?” ulang Naeun bingung.

Oh ya, L lebih bersyukur kalau Naeun tak bertanya balas budi apa yang dimaksud lelaki itu. Perasaannya campur aduk. Apa dia harus jujur?

“ Iya, balas budi” jawab L singkat. Tak berminat membuatnya lebih panjang.

Dalam hati ia berdoa agar Naeun tidak bertanya lagi tapi……

“ Untuk apa? Aku tak melakukan apapun. Aku malah hanya menghajar dan memukulmu selama  ini” ujar Naeun dengan polosnya.

L tertawa kecil. Sebenarnya ia sendiri tidak percaya. Bagaimana bisa ia merasakan hal ini pada seseorang yang hampir membuatnya patah tulang?

Perasaannya seperti………….ia merasakan cinta sekali lagi.

“ Karena kau…………..sudahmenghidupkankembalihatikuyangselamainimati”

Mata Naeun menyipit. “ Hah? Apa? Coba ulang, aku tidak dengar”

Tentu saja Naeun tak mendengarnya. L berkata cepat sekali, sama seperti kecepatan kereta api express. Wajahnya mulai merah padam. Apa yang sebenarnya baru saja ia katakan?.

“ Anggap saja aku tidak pernah bicara tadi” ujar L sambil mengalihkan pandangannya pada langit-langit mobil Woohyun alih-alih menyingkirkan rasa grogi yang mulai menyerang. Naeun merengut.

“ Kau membuatku penasaran tahu!” kesal Naeun.

Naeun melipat kedua tangannya di depan dada dan membuang muka. Seperti inilah sosok Son Naeun ketika sedang ngambek. L terkekeh dan mengacak-acak rambut gadis itu gemas.

“ Kau lucu sekali, nona Son” tutur L sembari tersenyum manis.

Naeun tidak tahu kenapa, tapi ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Untuk pertama kalinya selama 3 tahun.

“ L “ panggil Naeun ragu.

“ Hm?”

Lelaki tampan itu menarik tangannya dari puncak kepala Naeun dan menatap gadis itu, menunggu kata-kata yang akan dikeluarkannya.

Naeun menghembuskan nafas panjang. “ Jangan pergi dariku”

L membelalak kaget. Apa katanya? Coba ulang? Sepertinya ada yang salah dengan telinga namja itu. L tidak bisa menahan diri untuk tidak bertampang bodoh dan menganga.

Ia mulai menepuk-nepuk telinganya pelan. “ Kau bilang apa? Aku kenapa?”

Bukannya menjawab, Naeun malah membalikan badannya untuk mengambil tas Gucci yang teronggok di jok belakang lalu segera memakainya. Ia terus menunduk. Tangannya malah bergerak menyelipkan rambut-rambut yang menjuntai ke belakang telinga.

“ Aku harus pergi sekarang. Eunji sepertinya menungguku. Dan aku ada janji dengan Kai jadi selesaikan latihanmu dengan baik. Maaf aku tidak bisa mendampingimu. Akan ada Woohyun oppa atau Howon oppa yang akan membimbingmu. Sampai jumpa lagi nanti. Good luck!” pamit Naeun dan dengan cepat keluar dari Pontiac Firebird milik Woohyun.

L duduk terpaku didalamnya. Hanya bisa memandangi Naeun yang berjalan memasuki gedung dengan wajah hampa bercampur bingung. Perasaannya saja atau memang Naeun tampak gugup?

Tanpa L ketahui pula, Naeun sedari tadi terus menempelkan tangannya di dada. Jantungnya masih bergetar! Getaran kecil, namun ini tetap saja tak biasa. Seingatnya ini terjadi ketika……ia melihat sosok Myungsoo berdiri gagah di samping podium kepala sekolah sewaktu SMA. Sosok ketua OSIS yang begitu dipuja. Senyumannya yang tulus amatlah memabukkan. Dan Naeun ingat betul, itu pertama kalinya Naeun jatuh hati pada pria. Pada Myungsoo.

Tunggu

Apa itu artinya……….Naeun jatuh cinta lagi? Pada L? si duplikat wajah Myungsoo?. Naeun menggeleng kuat-kuat.

“ Aku masih ingin setia padamu, Myungsoo. Biarkan aku tetap setia padamu……” bisiknya lirih.

***

Semilir angin berhembus menyapa kota. Nampak seorang gadis mendekap sebuket bunga sambil terus berjalan menyusuri kawasan pemakaman Judae. Wajahnya datar, tak tampak ekspresi apapun disana. Ia berhenti didepan sebuah makam bernisan batu alam dan mulai duduk disana. Tangannya membelai lembut nisan tersebut.

“ Hello………love” ucapnya parau.

Jemarinya mengikuti ukiran nama di nisan itu. Kim Myungsoo. Tak lama air mata mulai membasahi pusara makam Myungsoo. Kekasihnya itu menangis, entah untuk keberapa kalinya setelah ia pergi. Naeun meletakkan buket bunganya dan mulai merebahkan diri di makam Myungsoo. Membayangkan lelaki itu tengah berbaring disampingnya juga saat ini.

“ Bagaimana kabarmu? Aku………tidak baik. Tidak sebaik ketika kau berada disampingku” ujar Naeun, bermonolog dengan ‘Myungsoo’. “ Happy 40th months anniversary, Myungsoo sunbaenim. Aku……sangat mencintaimu”

Dari depan gerbang pemakaman, Kai bersandar pada mobilnya dengan pandangan tak lepas dari Naeun. Tercabik, itu yang Kai rasakan setiap kali melihat Naeun dalam keadaan seperti itu. Ia tak mungkin tega. Dan yang paling Kai benci adalah kenyataan bahwa ia memang tak bisa melakukan apapun untuk mengubah gadis itu.

Gemuruh kilat dan petir menyambar secara tiba-tiba diikuti hujan yang mengguyur kota. Kai tersadar dari lamunannya dan buru-buru mengambil payung di dalam mobilnya. Dengan secepat mungkin ia menghampiri Naeun (yang masih terbaring di makam Myungsoo) dan membujuknya untuk pulang. Kata-katanya selalu sama. Aku tak mau kau sakit, Myungsoo pun pasti begitu.

Menahan segala rasa cemburu yang selama ini mendera karena Naeun hanya mau ikut ketika nama Myungsoo dibawa-bawa. Naeun mau dibujuk karena Myungsoo, bukan karena dirinya. Betapa tidak adilnya dunia ini. Ia kalah oleh seseorang yang sudah mati.

***

Kai melirik Naeun cemas. Ia terus menyempatkan diri mengawasi gadis itu meski kedua matanya harus terus terpaku pada jalanan. Hujan semakin deras sedangkan Naeun sama sekali tak mengurungkan niatnya untuk membuka jendela lebar-lebar dan menebar bunga di jalan.

Alhasil air hujan pun turut masuk kedalam mobil Kai. Kalau masalah mobilnya berpeluang kebanjiran, Kai tidak peduli. Yang ada dibenaknya sekarang adalah bagaimana jika Naeun sakit karena semua ini.

“ Naeun-a, sudahlah. Tutup jendelanya sekarang. Nanti kau sakit” tegur Kai.

Naeun tak menggubris. Ia hanya menyandarkan dagu pada jendela mobil dengan tangan kanan keluar, menebar bunga di jalanan.

“ Bukankah Myungsoo sangat pengertian?” Naeun tiba-tiba membuka obrolan yang sebenarnya tak terlalu disukai Kai. Tapi lelaki itu tetap menyediakan telinga untuk mendengar apapun kata Naeun.

“ Aku selalu mengotori jalanan dengan bunga melati. Tapi tidak pernah ada seorangpun polisi yang marah. Apa mungkin Myungsoo menahan mereka semua agar tidak menilang kita?” sambungnya.

Kai tersenyum miris. “ Bisa jadi”

Naeun tersenyum kemudian melempar kelopak bunga terakhir sebelum menutup jendela.

“ Myungsoo itu baik sekali”

Gadis itu hanya tidak tahu bahwa selama ini Kai yang sudah membayar para polisi agar Naeun bisa menjalankan ritual menabur bunga di jalan. Gadis itu juga tidak tahu bahwa Kai lah yang selama ini bernegosiasi dengan pada senior CKU agar memberi Naeun cuti singkat di tanggal 14 setiap bulannya.

Kai……hanya bisa melakukan hal-hal yang tak terlihat. Naeun membutakan matanya bahkan untuk sekedar melihat bayangan Kai. Ia tak pernah menyadari semuanya. Dan selama 2 tahun, seperti itulah hubungan Naeun dan Kai. Tak pernah ada harapan untuk seorang Kim Jongin, seolah segala jalan yang ada menjadi buntu setiap kali ia mencoba.

Seperti….memang tak akan ada kesempatan untuknya.

“ Naeun-a” panggil Kai pelan. Naeun menoleh kearahnya dengan senyum tipis.

“ Ya?”

“ Aku lelah”

Naeun sedikit terperanjat dengan kata-kata itu. Kai tidak pernah mengeluh soal kesehatannya selama ini. Malah kadang Naeun merasa iri dengan ketahanan fisik Kai yang baik-baik saja walau tidak tidur selama 3 hari demi menjalankan tugas. Naeun menempelkan punggung tangannya di dahi Kai.

“ Kenapa? Apa kau sakit? Kalau kau mau kita…..”

Naeun tak bisa melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba Kai menggenggam tangan Naeun yang masih mengukur suhu tubuh Kai.

“ Bukan disana” Kai memotong dengan suara lirih. Ia menempatkan tangan Naeun di dadanya. “ Didalam sana. Mereka lelah, Naeun. Mereka lelah tak pernah dianggap olehmu”

“ Kai…..”

Naeun menarik tangannya dan kembali duduk menghadap kedepan. Pandangannya mengosong.

“ Tidak bisakah kau melihatku, Naeun?”

Naeun merasa sepeti ada yang melilit jantungnya mendengar kata-kata lirih Kai. Kenapa begini? Mereka sahabat, seharusnya semua tak berakhir seperti ini. Semuanya diluar prediksi Naeun.

“ Kau tak seharusnya menyukaiku. Kau tak boleh menyukaiku Kai” ucap Naeun.

Gadis itu langsung berpegangan pada sabuk pegangan yang melindunginya ketika Kai secara tiba-tiba membanting setir ke arah kanan hingga mobilnya menimbulkan suara decitan keras yang kemudian disusul rem mendadak. Keduanya berhenti di pinggir jalan. Lelaki itu pun menatap Naeun nanar.

“ Kenapa? Karena Myungsoo?” Kai memungut nafasnya dalam-dalam meski rasanya oksigen di sekitar semakin menipis. “ Dia sudah tidak ada lagi Naeun”

Naeun membalas tatapan Kai. Tanpa emosi, tanpa ekspresi. “ Cintaku sudah mati bersama jasadnya”

Kai membanting dirinya hingga punggungnya menhantam senderan kursi dengan keras sementara Naeun membuang muka, ia lebih memilih memandangi pemandangan diluar jendela.

“ Kau tak pernah memberiku kesempatan. Melihatku saja tidak, apa aku begitu tak terlihat?” tanya Kai dengan nada getir. “ Cobalah buka matamu, Naeun. Aku ada disini untukmu kapanpun dan dalam kondisi apapun. Aku mohon padamu”

Naeun melirik Kai sedih. “ Jongin-a……”

“ Bukalah lembaran baru, aku bisa membimbingmu mulai sekarang. Kau tak harus mencintaiku, biar aku yang membuatmu merasakan cinta itu lagi jika memang dia sudah mati. Tak peduli berapa lama……aku akan menunggumu”

“ Kai” potong Naeun cepat. Semua harus dihentikan, sebelum Naeun luluh lagi. Sebelum Naeun memikirkan semuanya dari awal dan menyetujui kata-kata lelaki itu. “ Ayo kita kembali ke kantor. Aku takut L membuat masalah lagi. Kau tahu kan, Woohyun oppa dan Hoya oppa agak sedikit seram pada peserta trainee pria”

Dengan putus asa, Kai menuruti kata Naeun. Lelaki itu membawa mobilnya kembali ke jalan raya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari keduanya padahal Kai memerlukan tanggapan dari gadis itu. Apakah itu artinya dia ditolak? Entahlah.

Advertisements

Author: lollimato

Hello, this is Lollimato! I'm a bigfan of APink and BTS enjoy my fanficts and dont forget to give a comment and like Thank you ^^

26 thoughts on “[FF MyungEun] The Killing part 3A : Dark Past of Naeun

  1. Halooo author ^^ apa aku pertama?? /liat kanan kiri/
    WAAAAH DEMI APAPUN AKU SENENG BANGET PAS BUKA EMAIL, TERNYATA UDAH UPDATE!! :’)

    Haha thor, aku ngakak pas sungjong bilang “Aku harus mengatur jadwal pergi bertobat, rasanya kiamat sudah dekat” itu kocak bangett xD
    terus itu pas si L didiktein chorong buat nyetir mobil, HAHAHA bagus chorong, kamu telah membuat dia keringat dingin (?), good job /ketawa setan/ *digaplok L*

    Thor, Jia itu orang yg dimaksud sama peniel yah? ._. Jia itu siapanya L? Tanggal kematiannya kayaknya pas banget ya, sama kaya myungsoo….
    Hmm…. Tapi, aku masih curiga.. L sama Myungsoo itu jangan-jangan kembar yang terpisahkan (?) lagi… #soktau

    YUHUU banyak myungeun moment nih :3 aduuh scene yg di bus itu kiyut banget ><
    aigoo naeun, kamu nyium L itu sengaja kan? bukan kelepasan kan? 😉 hahaha

    Udah ah makin lama makin absurd nih komenku –"
    Oh iya, lupa, FIGHTING YAA THORR!!!!! ditunggu loh update-annya…. Fighting juga ya sama sekolahnya! ^^9

    Annyeong ~ ^^

    • haloooooooo /waves/
      iya kamu yang pertama! selamat yaaa kamu mendapat hadiah uang sebesaaaaaaaaaaaaar nol ._.

      hahahaha iya emang si L tuh harus sekali2 disiksa sama Chorong, biar kapok xD

      wahwahwah gimanaaa ya jawab pertanyaan ini /bingung unyu(?)/
      tunggu lanjutannya aja deh hihihihi ^^

      Naeun sebenernya malu2 mau kali tuh sama L /digampar Naeun/

      hahaha gapapa demen lah comment2 panjang gini mwehehehe :3

      gomawooooooooooooo /peluk tjium/

  2. Wow.. senengnya ff ini udah update. keren sekali.. berapa halaman nih? panjang yaa.. tapi gak kerasa..
    Agak kasihan sama Kai, tapi gak rela juga kalo Naeun nerima dia ahahaha.
    L bad boy banget ya, apa dia punya masa lalu juga sama cewek lain? huhuhu 😦
    Myungsoonya dihidupin lagi bisa kali ya wkwk #plak!
    Harapannya sih Naeun sama L bisa cepet jadian ._.
    Update juseyo ^^

  3. HUWAAAAAAAA SUDAH BERAPA LAMA DIRIKU MENUNGGU FF INI/?
    THOR GUA GALO NIH JADINYA MYUNGSOO SAMA L ITU ORANG YANG SAMA ATAU GIMANA? GUA CAPEK MIKIR THOR HIKS #ABAIKAN
    NJIR KAI KASIHAN BANGET ATUH SINI MAS SAMA ENENG/? KASI PERAN CEWEK SIAPA KEK GITU THOR BUAT KAI KASIAN ATUH MAH/?
    UJIAN NYETIRNYA HOROR SUMPAH
    BERASA NAIK JET KALI YE ITU WKS. L NAEUN JADIAN GIH SONO -_- NICE FF THOR DINANTI KELANJUTAN PQRT BERIKUTNYA

    • ADUH ANAK CAPS-MU GA PERNAH NYANTE YA XD

      WAKAKAKAKAW MAKANYA DITUNGGU AJA KELANJUTANNYA BIAR GA USAH BANYAK MIKIR /PLAK!/
      ADUH KAI MAH UDAH DIBOOKING SAMA EIKE /KEBAS JAMBUL(?)/
      IYA NANTI BIAR KAI SAMA AUTHOR AJA BIAR AFDOL /DOOOOOR!/

      IYA ITU L SAMA NAEUN JADIAN SANAH! /LAHHH??/

      YOIIII MAKASIH UDAH RCL YOOOOOOOO
      PELUK CIUM LAAAAH WKWKWKWKWK

  4. Wehee akhirannya ada lanjutannya juga o/ ah..ternyata begitu toh. Suka sama chorong juga disini lol dia selalu jd cewek tangguh di ff action/? xD atuhlah kai sini sama aku aja 😦 /apa/
    Myungsoo Naeun udah mau kode2an ya/? Kkk ditunggu lanjutannya eonni. Fighting! 😀

    • mweheheheh mian for late update u.u

      Rongmama emang cucok buat jadi yang gahar2/? di FF ya hahahaha
      Kai teh sama author atulah wkwkwkwk xD

      okaaaaaay
      thanks for RCL
      XOXO~~~~~

  5. Heollll!!!!! daebak. ini keren banget part ini, kak!!! lanjut kak! kok kayaknya kita saling follow di twitter ya?ㅋㅋ
    saran terakhir kak: kata2 semacam kontrol jangan diubah jadi control. tapi terserah sih.
    yg penting ff ini daebak. keep writing!!

    • asikkk deh makasih ya dek <333
      oh ya? uname twitter kamu apa emangnya???

      oh iya itu dek, itu tuh gara2 koreksinya Ms. Word -___- aku ga merhatiin lagi deh u.u

      makasih udah RCL
      XOXO

  6. Kyaaaa ~~~!!!
    Keren banget ff nya. L nya lucu banget apa lagi sujong. Pokok nya the best best sweet couple L- Naeun. Terus kasihan sama Kai tidak pernah di lihat naeun *ya iyalah kai kan kulitnya gelap, tambah lagi waktu malam total banget gak kelihatan*

    Part selanjutnya di tunggu ya!! Jangan lama lama

  7. AAAAA… bagus banget thor 😀
    aku masih ngga mudeng sama masa lalunya L. coba ceritain deh thor, flashback gitu..
    ahay, Naeun mulai suka tuh sama L, udah suruh jadian aja thor 😀
    kasian Kai, ngga dianggep pasti nyesek 😦
    ditunggu lanjutannya thor, jangan lama ya updatenya 😀

    • tenang aja, di part 3B bakal dijelasin kok, Dark Past of L hahahaa /bocoran/
      adaw L Naeun jadian mah butuh proses xD
      Kai emang nyesek tp ada author yg setia sama dia /apahinih/
      iyaaaa makasih yaaa 😀

  8. Akhirnya ff ini update juga uwo*tebarbunga. Gue curiga L sama myungsoo itu samaan deh ._.plis naeun kok agresif sih._.v wkwk. Next chapter ea unn, jngan kelamaan nnti owe lumutan/?gak

    • adaw daw *pungutin bunganya; makan(???) #DiamDiamTititsanSuzana ._.*
      heungggg sama ga yaaaaaa hahahaha
      maklum aja Naeun suka kelepasan ngeliat yg ganteng naujubilah gitu #plak
      tabah yaaa jangan lumutan dulu donggg

  9. KAI STAY STRONG YA -_- kasian terakhirnya kai bener2 tersiksa apa lagi diam2 dia udah berkorban jugakan

    kenapa ada hubungannya antara masa lalu naeun dan L? mereka sama2 kehilangan dan ya begitulah -_- mungkin myungsoo dan jia jia itu udah membuat mereka bersatu(?)

    author ditunggu lanjutannya 😀

  10. authornim reader baru nongol, bru bca ff ny trnyta update ny udh lama bgt –”
    thor td liat udh ad yg 3b ny tp knp kgk bs d cari yah dmn sih dikau taro udh mau bca ni tak sabar

  11. thooorr lanjutin doooonggg, hiatusnya lama banget:(((

  12. ahhh Jongin… kasian kau 😦

    author-nim, kasihanilah Jongin… u,u

    but overall, it’s good(Y)

  13. Jia? itu siapanya L? kenapa L ngga mau nginget masa lalunya juga? kenapa L dingin banget ke Peniel? untuk kai oppa,sabar ya 🙂 ikklasin aja Naeun sama L. wkwk

  14. KYAAA /? Telat weh telat /? Kece thor kece huee feelingnya masuk asek naeun disini jaat ye /? Kesian kan si temsek , yaudah bang temsek sama aku aja gpp kok ;;)
    Lanjut yep wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s